SUMEDANG

Kabupaten Sumedang

Lambang Kabupaten Sumedang
Locator_kabupaten_sumedang.png
Peta lokasi Kabupaten Sumedang
Koordinat : 6°51′35″LS,107°55′15″BT
Motto: TANDANG (Tertib, Aman, Nyaman, Damai, ANGgun)
Provinsi Jawa Barat
Ibu kota Sumedang
Luas 1.522,21 km²
Penduduk
· Jumlah 1.043.000 (2003)
· Kepadatan 685 jiwa/km²
Pembagian administratif
· Kecamatan 26
· Desa/kelurahan 277
Dasar hukum Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950
Tanggal -
Hari jadi {{{hari jadi}}}
Bupati Don Murdono
Kode area telepon 0261 dan 022(wilayah Tanjungsari, Jatinangor & Cimanggung)
APBD {{{apbd}}}
DAU Rp. -
Suku bangsa {{{suku bangsa}}}
Bahasa {{{bahasa}}}
Agama {{{agama}}}
Flora resmi {{{flora}}}
Fauna resmi {{{fauna}}}
Zona waktu {{{zona waktu}}}
Bandar udara {{{bandar udara}}}

Situs web resmi: http://www.sumedang.go.

Kabupaten Sumedang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Sumedang, sekitar 45 km Timur Laut Kota Bandung. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten IndramayuKabupaten Majalengka di Timur, Kabupaten Garut di Selatan, Kabupaten Bandung di Barat Daya, serta Kabupaten Subang di Barat. di Utara,

Kabupaten Sumedang terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Sumedang, ibukota kabupaten ini, terletak sekitar 45 km dari Kota Bandung. Kota ini meliputi kecamatan Sumedang Utara dan Sumedang Selatan. Sumedang dilintasi jalur utama Bandung-Cirebon.

Bagian Barat Daya wilayah Kabupaten Sumedang merupakan kawasan perkembangan Kota Bandung. IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri), sebelumnya bernama STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri), serta Universitas Padjadjaran berlokasi di Kecamatan Jatinangor.

Sebagian besar wilayah Sumedang adalah pegunungan, kecuali di sebagian kecil wilayah Utara berupa dataran rendah. Gunung Tampomas (1.684 m), berada di Utara Sumedang.

Sejarah

Pada mulanya Kabupaten Sumedang adalah sebuah kerajaan di bawah kekuasaan Raja Galuh. Didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Adji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Padjadjaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Adji Putih pada abad ke-12. Kemudian pada masa zaman Prabu Tadjimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, dan kemudian diganti lagi menjadi Sumedang Larang (Sumedang berasal dari Insun Medal/Insun Medangan yang berarti aku dilahirkan, dan larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya).

Sumedang Larang mengalami masa kejayaan pada waktu dipimpin oleh Pangeran Angka Wijaya dan Prabu Geusan Ulun sekitar tahun 1578, dan dikenal luas hingga ke pelosok Jawa Barat dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah Selatan sampai dengan Samudera Hindia, wilayah Utara sampai Laut Jawa, wilayah Barat sampai dengan kali Cisadane, dan wilayah Timur sampai dengan kali Cipamali.

Sumedang mempunyai ciri khas sebagai kota kuno khas di Pulau Jawa, yaitu terdapat Alun-alun sebagai pusat yang dikelilingi Mesjid Agung, rumah penjara, dan kantor pemerintahan. Di tengah alun-alun terdapat bangunan yang bernama Lingga, tugu peringatan yang dibangun pada tahun 1922. Dibuat oleh Pangeran Siching dari Negeri Belanda dan dipersembahkan untuk Pangeran Aria Suriaatmadja atas jasa-jasanya dalam mengembangkan Kabupaten Sumedang. Lingga diresmikan pada tanggal 22 Juli 1922 oleh Gubernur Jenderal Mr. D. Folk Sampai saat ini Lingga dijadikan lambang daerah Kabupaten Sumedang dan tanggal 22 April diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Sumedang.

SUMEDANG LARANG

Kerajaan Sumedang Larang adalah penerus kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran yang ada di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran berakhir di wilayah Pakuan, Bogor, karena serangan aliansi kerajaan-kerajaan Cirebon, Banten dan Demak (Jawa Tengah). Sejak itu, Sumedang Larang dianggap menjadi penerus Pajajaran dan menjadi kerajaan yang memiliki otonomi luas untuk menentukan nasibnya sendiri.

Asal-mula nama

Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama Hindu, yang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur, memperlihatkan ke Agungan Yang Maha Kuasa) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII. Prabu Guru Aji Putih memiliki putra yang bernama Prabu Tajimalela dan kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, Prabu Tajimalela pernah berkata “Insun medal; Insun madangan”. Artinya Aku dilahirkan; Aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.

Pemerintahan berdaulat

Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M)

Prabu Agung Resi Cakrabuana atau lebih dikenal Prabu Tajimalela dianggap sebagai pokok berdirinya Kerajaan Sumedang. Pada awal berdiri bernama Kerajaan Tembong Agung dengan ibukota di Leuwihideung (sekarang Kecamatan Darmaraja). Beliau punya tiga putra yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun.

Berdasarkan Layang Darmaraja, Prabu Tajimalela memberi perintah kepada kedua putranya (Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung), yang satu menjadi raja dan yang lain menjadi wakilnya (patih). Tapi keduanya tidak bersedia menjadi raja. Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua putranya jika kalah harus menjadi raja. Kedua putranya diperintahkan pergi ke Gunung Nurmala (sekarang Gunung Sangkanjaya). Keduanya diberi perintah harus menjaga sebilah pedang dan kelapa muda (duwegan/degan). Tetapi, Prabu Gajah Agung karena sangat kehausan beliau membelah dan meminum air kelapa muda tersebut sehingga beliau dinyatakan kalah dan harus menjadi raja Kerajaan Sumedang Larang tetapi wilayah ibu kota harus mencari sendiri. Sedangkan Prabu Lembu Agung tetap di Leuwihideung, menjadi raja sementara yang biasa disebut juga Prabu Lembu Peteng Aji untuk sekedar memenuhi wasiat Prabu Tajimalela. Setelah itu Kerajaan Sumedang Larang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung menjadi resi. Prabu Lembu Agung dan pera keturunannya tetap berada di Darmaraja. Sedangkan Sunan Geusan Ulun dan keturunannya tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes.

Setelah Prabu Gajah Agung menjadi raja maka kerajaan dipindahkan ke Ciguling. Ia dimakamkan di Cicanting Kecamatan Darmaraja. Ia mempunyai dua orang putra, pertama Ratu Istri Rajamantri, menikah dengan Prabu Siliwangi dan mengikuti suaminya pindah ke Pakuan Pajajaran. Kedua Sunan Guling, yang melanjutkan menjadi raja di Kerajaan Sumedang Larang. Setelah Sunan Guling meninggal kemudian dilanjutkan oleh putra tunggalnya yaitu Sunan Tuakan. Setelah itu kerajaan dipimpin oleh putrinya yaitu Nyi Mas Ratu Patuakan. Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai suami yaitu Sunan Corenda, putra Sunan Parung, cucu Prabu Siliwangi (Prabu Ratu Dewata). Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai seorang putri bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata (1530-1578), yang setelah ia meninggal menggantikannya menjadi ratu dengan gelar Ratu Pucuk Umun.

Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Kusumahdinata, putra Pangeran Pamalekaran (Dipati Teterung), putra Aria Damar Sultan Palembang keturunan Majapahit. Ibunya Ratu Martasari/Nyi Mas Ranggawulung, keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Pangeran Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran Santri karena asalnya yang dari pesantren dan perilakunya yang sangat alim. Dengan pernikahan tersebut berakhirlah masa kerajaan Hindu di Sumedang Larang. Sejak itulah mulai menyebarnya agama Islam di wilayah Sumedang Larang.

Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri

Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran Santri (1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya. Pada masa Ratu Pucuk Umun, ibukota Kerajaan Sumedang Larang dipindahkan dari Ciguling ke Kutamaya.

Dari pernikahan Ratu Pucuk Umun dengan Pangeran Santri memiliki enam orang anak, yaitu :

  1. Pangeran Angkawijaya (yang tekenal dengan gelar Prabu Geusan Ulun)
  2. Kiyai Rangga Haji, yang mengalahkan Aria Kuda Panjalu ti Narimbang, supaya memeluk agama Islam.
  3. Kiyai Demang Watang di Walakung.
  4. Santowaan Wirakusumah, yang keturunannya berada di Pagaden dan Pamanukan, Subang.
  5. Santowaan Cikeruh.
  6. Santowaan Awiluar.

Ratu Pucuk Umun dimakamkan di Gunung Ciung Pasarean Gede di Kota Sumedang.

Prabu Geusan Ulun

Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya, Pangeran Santri. Beliau menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata atau Rangga Gempol I, yang dikenal dengan nama Raden Aria Suradiwangsa menggantikan kepemimpinannya.

Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam rangka menyebarkan Agama Islam. Oleh karena penyerangan itu Kerajaan Pajajaran hancur. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi sebelum meninggalkan Keraton beliau mengutus empat prajurit pilihan tangan kanan Prabu Siliwangi untuk pergi ke Kerajaan Sumedang dengan rakyat Pajajaran untuk mencari perlindungan yang disebut Kandaga Lante. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran, kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun si Sumedang). Kandaga Lante yang menyerahkan tersebut empat orang yaitu Sanghyang Hawu atau Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.

Walaupun pada waktu itu tempat penobatan raja direbut oleh pasukan Banten (wadyabala Banten) tetapi mahkota kerajaan terselamatkan. Dengan diberikannya mahkota tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka dapat dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan menjadi bagian Kerajaan Sumedang Larang, sehingga wilayah Kerajaan Sumedang Larang menjadi luas. Batas wilayah baratnya Sungai Cisadane, batas wilayah timurnya Sungai Cipamali (kecuali Cirebon dan Jayakarta), batas sebelah utaranya Laut Jawa, dan batas sebelah selatannya Samudera Hindia.

Secara politik Kerajaan Sumedang Larang didesak oleh tiga musuh: yaitu Kerajaan Banten yang merasa terhina dan tidak menerima dengan pengangkatan Prabu Geusan Ulun sebagai pengganti Prabu Siliwangi; pasukan VOC di Jayakarta yang selalu mengganggu rakyat; dan Kesultanan Cirebon yang ditakutkan bergabung dengan Kesultanan Banten. Pada masa itu Kesultanan Mataram sedang pada masa kejayaannya, banyak kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara yang menyatakan bergabung kepada Mataram. Dengan tujuan politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan bergabung dengan Kesultanan Mataram dan beliau pergi ke Demak dengan tujuan untuk mendalami agama Islam dengan diiringi empat prajurit setianya (Kandaga Lante). Setelah dari pesantren di Demak, sebelum pulang ke Sumedang ia mampir ke Cirebon untuk bertemu dengan Panembahan Ratu penguasa Cirebon, dan disambut dengan gembira karena mereka berdua sama-sama keturunan Sunan Gunung Jati.

Dengan sikap dan perilakunya yang sangat baik serta wajahnya yang rupawan, Prabu Geusan Ulun disenangi oleh penduduk di Cirebon. Permaisuri Panembahan Ratu yang bernama Ratu Harisbaya jatuh cinta kepada Prabu Geusan Ulun. Ketika dalam perjalanan pulang ternyata tanpa sepengetahuannya, Ratu Harisbaya ikut dalam rombongan, dam karena Ratu Harisbaya mengancam akan bunuh diri akhirnya dibawa pulang ke Sumedang. Karena kejadian itu, Panembahan Ratu marah besar dan mengirim pasukan untuk merebut kembali Ratu Harisbaya sehingga terjadi perang antara Cirebon dan Sumedang.

Akhirnya Sultan Agung dari Mataram meminta kepada Panembahan Ratu untuk berdamai dan menceraikan Ratu Harisbaya yang aslinya dari Pajang-Demak dan dinikahkan oleh Sultan Agung dengan Panembahan Ratu. Panembahan Ratu bersedia dengan syarat Sumedang menyerahkan wilayah sebelah barat Sungai Cilutung (sekarang Majalengka) untuk menjadi wilayah Cirebon. Karena peperangan itu pula ibukota dipindahkan ke Gunung Rengganis, yang sekarang disebut Dayeuh Luhur.

Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orang istri: yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru, putri Sunan Pada; yang kedua Ratu Harisbaya dari Cirebon, dan yang ketiga Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya tersebut ia memiliki lima belas orang anak:

  1. Pangeran Rangga Gede, yang merupakan cikal bakal bupati Sumedang
  2. Raden Aria Wiraraja, di Lemahbeureum, Darmawangi
  3. Kiyai Kadu Rangga Gede
  4. Kiyai Rangga Patra Kalasa, di Cundukkayu
  5. Raden Aria Rangga Pati, di Haurkuning
  6. Raden Ngabehi Watang
  7. Nyi Mas Demang Cipaku
  8. Raden Ngabehi Martayuda, di Ciawi
  9. Rd. Rangga Wiratama, di Cibeureum
  10. Rd. Rangga Nitinagara, di Pagaden dan Pamanukan
  11. Nyi Mas Rangga Pamade
  12. Nyi Mas Dipati Ukur, di Bandung
  13. Rd. Suridiwangsa, putra Ratu Harisbaya dari Panemabahan Ratu
  14. Pangeran Tumenggung Tegalkalong
  15. Rd. Kiyai Demang Cipaku, di Dayeuh Luhur.

Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).

Pemerintahan di bawah Mataram

Dipati Rangga Gempol

Pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620 M Sumedang Larang dijadikannya wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai ‘kerajaan’ dirubahnya menjadi ‘kadipaten’. Hal ini dilakukannya sebagai upaya menjadikan wilayah Sumedang sebagai wilayah pertahanan Mataram dari serangan Kerajaan Banten dan Belanda, yang sedang mengalami konflik dengan Mataram. Sultan Agung kemudian memberikan perintah kepada Rangga Gempol beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan untuk sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede.

Dipati Rangga Gede

Ketika setengah kekuatan militer kadipaten Sumedang Larang diperintahkan pergi ke Madura atas titah Sultan Agung, datanglah dari pasukan Kerajaan Banten untuk menyerbu. Karena Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten, ia akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur.

Dipati Ukur

Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggung jawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.

Pembagian wilayah kerajaan

Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang. Sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis), oleh Mataram dibagi menjadi tiga bagian:

  • Kabupaten Sukapura, dipimpin oleh Ki Wirawangsa Umbul Sukakerta, gelar Tumenggung Wiradegdaha/R. Wirawangsa,
  • Kabupaten Bandung, dipimpin oleh Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti, gelar Tumenggung Wirangun-angun,
  • Kabupaten Parakanmuncang, dipimpin oleh Ki Somahita Umbul Sindangkasih, gelar Tumenggung Tanubaya.

Kesemua wilayah tersebut berada dibawah pengawasan Rangga Gede (atau Rangga Gempol II), yang sekaligus ditunjuk Mataram sebagai Wadana Bupati (kepala para bupati) Priangan.

Peninggalan budaya

Hingga kini, Sumedang masih berstatus kabupaten, sebagai sisa peninggalan konflik politik yang banyak diintervensi oleh Kerajaan Mataram pada masa itu. Adapun artefak sejarah berupa pusaka perang, atribut kerajaan, perlengkapan raja-raja dan naskah kuno peninggalan Kerajaan Sumedang Larang masih dapat dilihat secara umum di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang letaknya tepat di selatan alun-alun kota Sumedang, bersatu dengan Gedung Srimanganti dan bangunan pemerintah daerah setempat.

Referensi

  1. http://www.kasundaan.org/

Berdirinya Museum Prabu Geusan Ulun

Peninggalan benda-benda bersejarah dan barang-barang pusaka Leluhur Sumedang, sejak Raja-raja Kerajaan Sumedang Larang dan Bupati-bupati yang memerintah Kabupaten Sumedang dahulu, merupakan koleksi yang membanggakan dan besar artinya bagi kita semua, terlebih bagi keluarga Sumedang.

Kumpulan benda-benda tersebut disimpan di Yayasan Pangeran Sumedang sejak tahun 1955.

Timbullah suatu gagasan, ingin memperlihatkan kepada masyarakat Sumedang khususnya dan masyarakat di luar Sumedang pada umumnya, bahwa di Sumedang dahulu terdapat kerajaan besar yaitu Kerajaan Sumedang Larang, dengan melihat benda-benda peninggalan Raja-raja tersebut dan sebagainya.

Gagasan tersebut ditanggapi dengan penuh keyakinan oleh keluarga, maka direncanakan membuat museum. Setelah diadakan persiapan-persiapan yang matang dan terencana, lima tahun setelah tahun 1968 baru terlaksana, tepatnya tanggal 11 Nopember 1973 Museum Keluarga berdiri.

Museum tersebut diberi nama Museum Yayasan Pangeran Sumedang, dan dikelola langsung oleh Yayasan Pangeran Sumedang. Pada tahun 1974, di Sumedang diadakan Seminar Sejarah oleh ahli-ahli sejarah se-Jawa Barat dan diikuti ahli sejarah dari Yayasan Pangeran Sumedang, dalam seminar tersebut dibahas nama museum Sumedang. Diusulkan nama museum adalah seorang tokoh dalam Sejarah Sumedang, ternyata yang disepakati nama Raja Sumedang Larang terakhir yang memerintah Kerajaan Sumedang Larang dari tahun 15781601, yaitu Prabu Geusan Oeloen.

Kemudian nama museum menjadi Museum Prabu Geusan Ulun dengan ejaan baru untuk memudahkan generasi baru membacanya.

Gedung yang dipergunakan untuk museum yaitu Gedung Srimanganti, Bumi Kaler, Gedung Gendeng dan Gedung Gamelan. Pada tahun 1980, Pemerintah melalui Dinas Jawatan Permuseuman dan Kepurbakalaan Kebudayaan Jawa Barat, mengulurkan tangan dan memugar Gedung Srimanganti dan Bumi Kaler.

Pada hari Rabu tanggal 21 April 1982, Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. DR. Haryati Soebadio, meresmikan dan menyerahkan kedua bangunan yang selesai dipugar kepada Yayasan Pangeran Sumedang dan bernaung di bawah Momenten Ordonnatie Nomor 19 Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 Nomor 238).

Letak Museum Prabu Geusan Ulun

Museum Prabu Geusan Ulun terletak di tengah kota Sumedang, 50 meter dari Alun-alun ke sebelah selatan, berdampingan dengan Gedung Bengkok atau Gedung Negara dan berhadapan dengan Gedung-gedung Pemerintah. Jarak dari Bandung 45 kilometer, sedangkan jarak dari Cirebon 85 kilometer, jarak tempuh dari Bandung 1 jam, sedangkan dari Cirebon 2 jam.

Museum Prabu Geusan Ulun

Museum Prabu Geusan Ulun dikelilingi tembok/dinding yang tingginya 2,5 meter, dibuat pada tanggal 16 Agustus 1797.

Luas halaman Museum seluas 1,88 ha, dengan dihiasi taman-taman dan ditanami pohon-pohon langka.

Gedung yang berada di sekitarnya terdiri dari:

Srimanganti

Didirikan pada tahun 1706, masa pemerintahan Dalem Tumenggung Tanoemadja dari tahun 17061709.

Pendirian gedung tersebut direncanakan oleh Pangeran Panembahan yang memerintah dari tahun 16561706, yang pernah diserbu oleh laskar-laskar Cilikwidara cs dari pasukan gabungan Banten.

Sejak selesai dibangun, maka pemerintahan pindah ke daerah baru yang disebut Regol.

Sejak itu Srimanganti dijadikan gedung tempat tinggal dan kantor oleh para bupati tempo dulu. Sedangkan untuk keluarga dibangun Bumi Kaler.

Gedung Bengkok / Gedung Negara

Didirikan pada tahun 1850, masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata (Pangeran Soegih) dari tahun 18361882. Gedung tersebut didirikan di atas tanah beliau untuk keperluan upacara-upacara resmi, peristirahatan bagi tamu-tamu dari Jakarta jika berkunjung ke Sumedang.

Halaman Gedung Bengkok cukup luas, di depan dibuat taman-taman dan ditanami dengan pelbagai buah-buahan. Di bagian barat didirikan Panggung Gamelan untuk menyimpan gamelan-gamelan kuno. Di bagian belakang sebelah barat, sekarang SMP Negeri 2 Sumedang memajang istal kuda dan tempat menyimpan kereta-kereta, diantaranya Kereta Naga Paksi. Sedangkan di belakang gedung dibuat kolam yang besar disebut Empang, yang kedalamannya setinggi bambu dan berbentuk kerucut.

Empang

Di tepi Empang, dibangun Bale Kambang, tempat istirahat bagi keluarga para Bupati dan Tamu-tamu Agung, sambil memancing ikan dengan dihibur Gamelan Buhun atau Degung.

Masa pemerintahan Pangeran Aria Soeria Atmadja dari tahun 18821919, ikan yang ada di Empang diganti dengan Ikan Kancra, sehingga merupakan peternakan ikan Kancra yang beratnya bisa mencapai 10 atau 15 kilogram.

Ikan Kancra tersebut diambil setiap bulan Mulud, untuk keperluan pesta Maulid Nabi Muhammad SAW yang dibagikan kepada fakir miskin dan sebagainya.

Bumi Kaler

Didirikan tahun 1850, masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata (Pangeran Soegih) dari tahun 18361882.

Berhadapan dengan Bumi Kidul, sayangnya pada masa pemerintahan Pangeran Aria Soeria Atmadja (Pangeran Mekkah) Bumi Kidul dibongkar karena lapuk dimakan umur.

Bumi Kaler dibuat keseluruhan dari kayu jati, dan di atas tiang bentuknya khas rumah orang Sunda.

Dengan ruangan-ruangan dan kamar-kamar yang luas, sedangkan jendela dan pintu-pintunya tinggi-tinggi.

Gedung Yayasan Pangeran Sumedang

Didirikan tahun 1955, Yayasan Pangeran Sumedang yang mengelola seluruh Wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja dan Museum Prabu Geusan Ulun juga makam-makam seperti :

  • Makam Gunung Puyuh
  • Makam Gunung Ciung Pasaran Gede
  • Makam Gunung Lingga
  • Makam Dayeuh Luhur
  • Makam Manangga
  • Makam Panday
  • Makam Sunan Pada – Karedok
  • Makam Nyai Mas Gedeng Waru – Cigobang
  • Makam Prabu Gajah Agung – Cicanting, Kampung Sukamenak, Kecamatan Darmaraja
  • Makam Prabu Lembu Agung – Cipaku, Kecamatan Darmaraja

Gedung Gendeng

didirikan tahun 1850 dan dipugar tahun 1950. Gedung tersebut aslinya dibuat dari :

  • Lantai merah
  • Dinding bilik
  • Tiang kayu jati
  • Atap genting

Tempat menyimpan barang-barang pusaka, senjata-senjata dan gamelan kuno.

Gedung Gamelan

Didirikan tahun 1973 oleh Pemerintah Daerah Sumedang atas sumbangan dari Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Bapak H. Ali Sadikin.

Gedung tersebut diperuntukkan tempat menyimpan gamelan-gamelan dan tempat berlatih tari-tarian.

Lumbung Padi

Semula Lumbung Padi terletak di luar benteng di tepi Empang, demi keamanan kemudian dipindahkan ke dalam komplek di dalam benteng.

Lumbung tersebut dipergunakan tempat menyimpan padi hasil dari sawah-sawah wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja

Padi tersebut dipergunakan untuk menyumbang wargi-wargi yang tidak mampu, sampai sekarang tercatat sejumlah 180 keluarga yang disumbang, besarnya hampir 12 ton per bulan.

Dan keperluan pemeliharaan pusaka-pusaka, wakaf dan pelestarian seluruh wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja.

CADAS PANGERAN

Cadas Pangeran adalah nama suatu tempat, kira-kira enam kilometer sebelah barat daya kota Sumedang, yang dilalui jalan raya BandungCirebon. Pemberian nama ini terkait dengan pembangunan Jalan Raya Pos Daendels yang melintasi daerah ini. Karena medan yang berbatu cadas, lima ribuan jiwa pekerja kehilangan nyawanya. Hal ini membuat marah penguasa Kabupaten Sumedang, Pangeran Kusumadinata IX (1791-1828) yang lebih populer dengan sebutan Pangeran Kornel, dan ia memprotes Daendels atas kesemena-menaan dalam pembangunan jalan itu.

LAMBANG SUMEDANG


GAMBAR DAN ARTI LAMBANG

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN DATI II SUMEDANG

Lambang Kabupaten Sumedang diciptakan oleh R. MAHARMARTANAGARA, putra seorang Bupati Bandung Raden ADIPATI ARIA MARTANEGARA, keturunan Sumedang, Lambang ini diresmikan menjadi lambang Sumedang pada tanggal 13 Mei 1959. Hal-hal yang terkandung pada logo:

1. � �� PERISAI

Melambangkan jiwa kesatria utama, percaya pada diri sendiri.

2. � �� SISI MERAH

Melambangkan semangat keberanian.

3. � �� DASAR HIJAU

Melambangkan kesuburan pertanian.

4. � �� BENTUK SETENGAH BOLA DAN SETENGAH KUBUS PADA LINGGA

Melambangkan bahwa manusia tidak ada yang sempurna.

5. � �� SINAR MATAHARI

Melambangkan semangat rakyat dalam mencapai kemajuan.

6. � �� WARNA KUNING EMAS

Melambangkan keluhuran budi dan kebesaran jiwa.

7. � �� SINAR YANG KE 17 ANGKA

Melambangkan Angka Sakti tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI.

8. � �� DELAPAN BENTUK PADA LINGGA

Lambang Bulan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

9. � �� 19 BUAH BATU PADA LINGGA, 4 BUAH KAKI TEMBIK DAN 5 BUAH ANAK TANGGA

Lambang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI Tahun 1945.

10. TULISAN INSUN MEDAL

Tulisan Insun Medal erat kaitannya dengan kata Sumedang yang mengandung arti :

a. � �� Berdasarkan Prabu TADJIMALELA, seorang tokoh legendaris dalam sejarah Sumedang, INSUN MEDAL berarti keluar (INSUN : Aku, MEDAL : Keluar).

b. � �� Berdasarkan data di Museum Pangeran GEUSAN ULUN ; INSUN MEDAL berarti (INSUN : Daya, MADANGAN : Terang) Kedua pengertian tersebut bersifat mistik.

c. � � � Berdasarkan Prof. ANWAS ADIWILAGA, INSUN MEDAL berasal dari kata SU dan MEDANG� (SU : bagus dan MEDANG : sejenis kayu yang bagus pada jati yaitu huru banyak tumbuh di Sumedang dulu), pengertian ini bersifat etimologi.

VISI DAN MISI

RKPD ( Rencana Kerja Pemerintah Daerah ) TAHUN ANGGARAN 2009

VISI : �PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DALAM RANGKA AKSELERASI PENCAPAIAN VISI SUMEDANG 2005-2025�

PENJELASAN VISI

Yang dimaksud dengan :

  1. Peningkatan Kualitas Pelayanan adalah suatu kondisi peningkatan kualitas berbagai aspek penyelenggaraan pelayanan publik baik secara administratif maupun non administratif yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah bagi seluruh warga masyarakat Sumedang yang lebih memuaskan (murah, terjangkau, tepat waktu dan berkeadilan) sesuai dengan kebutuhan.
  2. Kesejahteraan Masyarakat adalah terwujudnya suatu kondisi kesejahteraan masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan dasar dibidang pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kehidupan yang layak bagi masyarakat, serta pemenuhan kebutuhan sarana prasarana infrastruktur daerah untuk mendorong aktifitas perekonomian daerah dalam rangka pembangunan berkelanjutan

MISI

Berdasarkan Visi dan penjelasan Visi diatas maka yang menjadi Misi adalah :

  1. Mewujudkan kualitas SDM masyarakat yang unggul dan berakhlak mulia berlandaskan keimanan dan ketakwaan Kepada Tuhan YME
  2. Mewujudkan kualitas aparatur dan manajemen pemerintahan daerah yang semakin baik
  3. Mewujudkan ketahanan pangan dan perekonomian daerah yang tangguh yang bertumpu pada potensi sumberdaya daerah secara berkelanjutan
  4. Mewujudkan tata kelola lingkungan yang semakin baik

    STRATEGI DAN KEBIJAKAN VISI : PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT SEBAGAI AKSELERASI PENCAPAIAN VISI SUMEDANG 2005-2025

    MISI

    1. Mewujudkan kualitas SDM masyarakat yang unggul dan berakhlak mulia berlandaskan keimanan dan ketakwaan Kepada Tuhan YME
    2. Mewujudkan kualitas manajemen pemerintahan daerah yang semakin baik
    3. Mewujudkan ketahanan pangan dan perekonomian daerah yang tangguh yang bertumpu pada potensi sumberdaya daerah secara berkelanjutan
    4. Mewujudkan tata kelola lingkungan yang semakin baik

    STRATEGI

    1. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang sehat, cerdas, produktif dan berdaya saing
    2. Meningkatkan kompetensi aparatur dan kapasitas manajemen pemerintahan
    3. Meningkatkan dan memperkokoh perekonomian rakyat
    4. Meningkatkan pengendalian dan pemulihan kualitas lingkungan dan manajemen bencana
    5. Meningkatkan pengelolaan, pengembangan dan pengendalian infrastruktur daerah
    6. Meningkatkan kemandirian energi dan kecukupan air

    STRATEGI 1

    Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang sehat, cerdas, produktif dan berdaya saing

    KEBIJAKAN 1

    Menciptakan sumberdaya manusia Sumedang yang memiliki kompetensi dan berdaya saing dengan sasaran :

    1. Meningkatnya kualitas pendidikan masyarakat Sumedang
    2. Meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat Sumedang
    3. Meningkatnya aksesibilitas terhadap pelayanan dasar dan pelayanan sosial
    4. Meningkatnya kualitas pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama serta nilai-nilaI budaya daerah yang relevan

    KEBIJAKAN 2

    Memperluas penciptaan lapangan kerja serta menyiapkan tenaga kerja terampil dan berjiwa wira usaha untuk kebutuhan lokal, regional, nasional dan internasional, dengan sasaran :

    1. Meningkatnya kesempatan kerja melalui peningkatan investasi dan padat karya
    2. Meningkatnya ketersediaan SDM tenaga kerja yang memenuhi standar kompetensi dan wirausahawan yang berkualitas
    3. Meningkatnya kesejahteraan petani, buruh dan masyarakat miskin lainnya

    STRATEGI 2

    Meningkatkan kompetensi aparatur dan kapasitas manajemen pemerintahan

    KEBIJAKAN 3

    Memberikan insentif dan disinsentif yang berbasis kompetensi kinerja, peningkatan fungsi dan peran kelembagaan pemerintahan daerah di semua tingkatan dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan sasaran :

    1. Meningkatnya peran dan fungsi kelembagaan pemerintahan daerah di tingkat kabupaten, kecamatan dan desa.
    2. Meningkatnya profesionalisme aparatur di berbagai tingkatan pemerintahan
    3. Meningkatnya perbaikan kesejahteraan aparatur di daerah
    4. Meningkatnya kesadaran dan komitmen untuk mewujudkan Good Governance dan Clean Government di semua stakeholders pemerintahan.

    STRATEGI 3

    Meningkatkan dan memperkokoh perekonomian rakyat

    KEBIJAKAN 4

    Menjaga dan meningkatkan ketersediaan pangan daerah melalui intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi dengan sasaran :

    1. Meningkatnya produksi dan stok beras
    2. Meningkatnya produksi dan stok kedele
    3. Meningkatnya produksi dan stok protein hewani
    4. Tertatanya distribusi dan perdagangan beras, kedelai dan bahan pokok lainnya
    5. Meningkatnya pengelolaan pasca panen dan pengendalian hama penyakit
    6. Terkendalinya alih fungsi lahan pertanian
    7. Meningkatnya penyediaan sarana prasarana dan infrastruktur pertanian
    8. Meningkatnya keanekaragaman produk pangan daerah.

    KEBIJAKAN 5

    Meningkatkan produktifitas dan daya beli masyarakat melalui penguatan ekonomi rakyat dengan sasaran :

    1. Meningkatnya produktifitas lembaga ekonomi rakyat (UMKM)
    2. Meningkatnya kemudahan akses pasar bagi dunia usaha
    3. Meningkatnya fasilitasi permodalan dan intermediasi perbankan dalam menggerakkan sektor ekonomi riil
    4. Meningkatnya agribisnis yang berbasis komoditas unggulan daerah
    5. Meningkatnya potensi dan investasi kepariwisataan daerah
    6. Meningkatnya industri kecil dan menengah yang berbasis potensi daerah
    7. Berjalannya kemitraan strategis antara UMKM, BUMD dan Pengusaha Besar
    8. Terbentuknya lembaga keuangan desa

    STRATEGI 4

    Meningkatkan pengendalian dan pemulihan kualitas lingkungan dan manajemen bencana

    KEBIJAKAN 6

    Pelestarian lingkungan dan fungsi kawasan lindung di daerah dengan sasaran :

    1. Meningkatnya pelestarian lingkungan dan Pengelolaan Kawasan Lindung
    2. Meningkatnya penanganan kerusakan dan pencemaran lingkungan
    3. Meningkatnya kemitraan antara pemerintah, dunia usaha dan masyarakat dalam pelestarian lingkungan dan pengelolaan kawasan lindung

    KEBIJAKAN 7

    Meningkatkan Manajemen Bencana melalui sistem tata kelola penanganan bencana alam dan sosial dengan sasaran :

    1. Meningkatnya kesiapan dini ( early warning system ) dan mitigasi bencana
    2. Berkurangnya resiko kejadian bencana di wilayah Sumedang
    3. Meningkatnya penanganan kejadian bencana/wabah dan evakuasi secara cepat dan tepat
    4. Meningkatnya pemahaman dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana alam dan bencana sosial lainnya

    STRATEGI 5

    Meningkatkan pengelolaan, pengembangan dan pengendalian infrastruktur daerah

    KEBIJAKAN 8

    Meningkatkan kualitas pengelolaan dan penyediaan Jaringan jalan dan jembatan, irigasi, air bersih serta infrastruktur lainnya di daerah dengan sasaran

    1. Meningkatnya kondisi jaringan irigasi
    2. Meningkatnya kondisi jalan dan jembatan
    3. Meningkatnya cakupan layanan air bersih
    4. Meningkatnya fasilitasi persiapan pembangunan jalan tol Cisumdawu, Bendung Jatigede, dan bendung-bendung lapang
    5. Meningkatnya pengelolaan persampahan dan limbah di daerah perkotaan dan kawasan industri
    6. Terlaksananya pembangunan pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang
    7. Meningkatnya kemitraan dengan masyarakat dan dunia usaha dalam penyediaan dan pemeliharaan infrastruktur daerah
    8. Meningkatnya fasilitasi sarana dan prasarana perhubungan

    STRATEGI 6

    Meningkatkan kemandirian energi dan kecukupan air

    KEBIJAKAN 9

    Meningkatkan ketersediaan energi dan listrik perdesaan serta ketersediaan air bagi pemenuhan kebutuhan pertanian dan masyarakat dengan sasaran

    1. Meningkatnya cakupan elektrifikasi perdesaan
    2. Berkembangnya penciptaan dan pemanfaatan energi alternatif
    3. Meningkatnya ketersediaan air baku untuk pertanian dan air bersih untuk masyarakat
    4. Meningkatnya pelestarian dan perlindungan sumber-sumber mata air.

MAKANAN KHAS

Tahu Sumedang

Makanan Khas ini, merupakan makanan yang paling di unggulkan, disamping dengan Tahu dengan rasa yang khas, dengan perpaduan sambal yang cocok disajikan dalam segala suasana. Makanan Khas ini dapat didapatkan di semua daerah kabupaten sumedang, di mulai dari kios-kios atau pun toko-toko klontong. Bahkan bisa didapatkan di luar daerah sumedang.

Ubi Cilembu

Ubi ini sangat manis dan pulen, berbeda dengan ubu kebanyakan. Panganan ini banyak terdapat di sekitar kecamatan Tanjungsari, atau apabila anda datang dari arah Bandung, lokasinya antara Jatinangor dan Cadas Pangeran. Cara penyajian ubi ini berbeda dengan ubi lain yaitu dengan dimasak menggunakan oven.

Salak Cipondoh

Buah salak ini banyak terdapat di desa Bongkok kecamatan Congeang dan memiliki ciri dan rasa yang khas. Hampir seluruh masyarakat di desa ini menanamnya karena kebanyakan masyarakat menanam buah ini sebagai mata pencaharian. Buah ini bisa anda temui di daerah Paseh Kabupaten Sumedang, anda bisa mencoba salak Sumedang ini.

Sawo Citali

Buah ini banyak terdapat di desa sukatali kecamatan Situraja. Sawo citali juga memiliki kekhasan baik dari rasa, warna dan bentuknya jika dibandingkan dengan buah serupa yang lain. Sawo Citali merupakan bagian dari makanan khas di daerah Sumedang. Hampir seluruh masyarakat di desa ini menanamnya.

Sale Pisang

Merupakan pangan hasil olahan dari buah Pisang. Rasanya manis dan legit serta sedikit renyah karena dilapisi tepung di luarnya. Makanan khas ini bisa di temukan didaerah Panyingkiran Kabupaten Sumedang.

WISATA ALAM

Cipanas Sekarwangi

Cipanas Sekarwangi terletak 19 km sebelah utara Sumedang, di kaki Gunung Tampomas di Desa Sekarwangi, Kec. Buahdua dan bisa dicapai dengan semua jenis mobil pribadi termasuk transportasi umum melalui jurusan Sumedang Conggeang – Buahdua. Cipanas Cileungsing tidak jauh dari Cipanas Sekarwangi dan mempunyai arah yang sama, terletak di desa Cilangkap Kec. Buahdua sekitar 15 km dari Sumedang dan dapat dicapai dengan berkendaraan disepanjang jalur Sumedang – Conggeang – Buahdua selama 40 menit.

Kampung Toga

Kampung Toga singkatan dari Kampung Tanaman Obat – obatan, terletak 3 km dari alun – alun Sumedang merupakan objek rekreasi keluarga dengan lingkungan pegunungan yang indah dan nyaman yang cocok untuk pertemuan dan pesta. Bentangan alam dengan ketinggian yang berbeda menjadikan kawasan ini memiliki wisata yang beraneka ragam sehingga tersedia fasilitas untuk : • Paraglaiding • Gantole • Track • Arung jeram • Hiking • Jogging • Off Road • Game War • Horse Riding

Gunung Kunci

Gua Gunung Kunci merupakan tempat rekreasi dengan pemandangan alam yang indah, terletak di Sumedang dengan jarak kurang dari 200 m dari Alun – alun atau PEMDA Kabupaten Sumedang. Gua tersebut dibangun pada tahun 1917 pada masa penjajahan Belanda dan digunakan sebagai benteng pertahanan / perlindungan untuk mengepung masyarakat Sumedang.

Curug Sindulang

Curug Sindulang terletak di Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung dan bisa dicapai dengan semua jenis kendaraan umum dan mobil pribadi. Kita bisa menemukan transportasi umum di terminal bus Cicalengka mengambil jurusan Cicalengka – Sindangwangi. Tempat rekreasi yang mempunyai dua air terjun dengan ketinggian 50m. Curug Sindulang jalan masuk terbaik dari Bandung atau Cicalengka perjalanan disepanjang Pegunungan jalan berliku-liku Curug Sindulang menyajikan panorama yang permai.

Wisata Agroteknobisnis

Tempat wisata yang menjanjikan kedekatan dengan alam semakin semarak. Banyak yang menyajikan dengan ke-khas-an masing-masing. Ada yang mengajak pengunjungnya menikmati kedekatan dengan sapi, maksudnya pengunjung diberi kesempatan membelai sapi plus kesempatan belajar memerah susu dari si sapi, asik juga. Ada yang khusus menyajikan kemewahan ber-strawberry-ria. Disini pengunjung langsung berinteraksi dengan sang tanaman, memetik dan menikmati buah strawberry langsung dari pohonnya. Ada juga tempat yang mengijinkan pengunjung untuk pesta duren gratis, dengan syarat tidak boleh ada yang dibawa keluar wilayah wisata tersebut. Dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain, yang tentunya sangat positif jika dilihat dari tujuannya yaitu (antara lain) mendekatkan kita ke alam, menikmatinya sambil ikut serta aktif dalam kegiatan didalamnya. Aktif memerah susu, aktif memetik strawberry, aktif membelah duren, yang akan memberi nilai kenikmatan khusus bagi kita, apalagi kalau anak-anak kita pun dilibatkan.

WISATA BUDAYA

Museum Prabu Geusan Ulun

Museum ini terletak di kompleks bangunan pemerintahan kira – kira 50 meter di sebelah selatan alun – alun Sumedang. Bisa dengan mudah dicapai oleh semua jenis kendaraan. Sebuah museum keluarga yang dibangun pada tahun 1973. Benda – benda bekas peninggalan nenek moyang raja – raja/ Bupati Sumedang di zaman Kerajaan Sumedang Larang di simpan di Museum ini. Koleksi yang di simpan di mususeum ini asli peninggalan nenek moyang.

Upacara Adat Ngalaksa

Rancangkalong, kampung yang juga menjadi Ibukota kecamatan ini tak sampai satu jam ditempuh dengan mobil dari kota Sumedang. Di sana ada lima rurukan atau desa yang berdekatan, yaitu Rurukan Cijere, Rancangkalong, Cibunar, Legok Picung dan Rurukan Pasir Biru. Dua abad silam, warga kampung tak pernah alpa melaksanakan sebuah ritual yakni Ngalaksa. Sebuah upacara yang tak hanya diwarnai dengan pementasan kesenian jentreng dengan mengunakan alat musik tersendiri yaitu ngek-ngek, tapi juga dengan ritual yang penuh makna: penghormatan terhadap Tuhan, alam dan sesma manusia, yang semuanya berpusat kepada dewi segala dewi bagi banyak bangsa di dunia, Dewi Sri, Ibu yang Memberi Kehidupan. Masyarakat Sunda juga menyebutnya Sang Hiang Sri atau Nyi Poah Aci.

Makam Tjoet Nyak Dhien

Makam Tjoet Nyak Dhien berada diatas bukit kecil dekat Kantor Pemerintahan Sumedang yang berlokasi di Gunung Puyuh Kec. Sumedang Selatan dan dapat dicapai hanya dengan berjalan kaki.Diceritakan bahwa Tjoet Nyak Dhien diasingkan ke Sumedang dari Tanah Rencong (Sumatera) hingga ia meninggal dunia.Tjoet Nyak Dhien adalah pahlawan nasional wanita berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam.sejarah singkat cut nyakdhien

Makam Marongge

Makam Tjoet Nyak Dhien berada diatas bukit kecil dekat Kantor Pemerintahan Sumedang yang berlokasi di Gunung Puyuh Kec. Sumedang Selatan dan dapat dicapai hanya dengan berjalan kaki.Diceritakan bahwa Tjoet Nyak Dhien diasingkan ke Sumedang dari Tanah Rencong (Sumatera) hingga ia meninggal dunia.Tjoet Nyak Dhien adalah pahlawan nasional wanita berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam.

Responses

  1. anda bisa jalan-jalan ke museum sumedang yang letaknya dekat dengan kantor PEMDA sumedang. disana saudara bisa mengenal lebih jauh sejarah kerajaan, termasuk letak makam2nya..


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: